PERTEMUAN 11, REFERENSI TENTANG CITRA BERWARNA

PENGOLAH CITRA (PERTEMUAN 11)

REFERENSI TENTANG CITRA BERWARNA

_____________________________________________________________________________________

Nama    : Akbar Riyaji
Kelas     : 17.5A.07
Nim       : 17200237
Matkul   : Pengolah Citra (Pertemuan 11)

_____________________________________________________________________________________

(1) RANCANG BANGUN SISTEM PENDETEKSI CONE PADA ROBOMAGELLAN (JELAJAH V-18) 

1. PENDAHULUAN

Autonomous cars atau mobil tanpa pengemudi adalah sebuah kendaraan yang mampu merasakan lingkungan di sekitarnya dan bernavigasi tanpa bantuan manusia. Autonomous cars terdiri dari beberapa alat dan sensor untuk mengetahui keadaan sekitar seperti radar, kamera, sinar laser, GPS, lidar dan computer vision. Semua alat akan tersambung ke sebuah sistem utama untuk mengontrol dan memproses informasi dari sensor untuk mengidentifikasi jalur navigasi yang tepat [1].

Untuk mengembangkan Autonomous cars maka diadakanlah berbagai perlombaan untuk membuat purwarupa mobil pintar dimana purwarupa tersebut harus menggunakan berbagai sensor yang diterapkan pada Autonomous cars seperti GPS dan kamera. Robogames adalah salah satu kontes robot dimana salah satu cabang perlombaannya adalah membuat purwarupa robot pintar dimana tujuan utama perlombaan adalah robot harus bisa bernavigasi secara otomatis dengan menggunakan GPS dan melewati berbagai rintangan dengan menggunakan berbagai sensor jarak dari titik kordinat GPS awal sampai dengan titik kordinat GPS akhir. Titik-titik kordinat tersebut nantinya akan ditandai dengan sebuah traffic cone berwarna jingga oleh karena itu robot harus bisa mengenali objek berupa traffic cone berwarna jingga dan menyentuhnya untuk menyelesaikan perlombaan [2].

Pengolahan Citra 

Pengolahan citra merupakan proses pengolahan gambar untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan pada sebuah citra [3]. Pengolahan citra dapat dibagi ke dalam tiga kategori yakni kategori rendah, menengah, dan tinggi. Kategori rendah melibatkan operasi-operasi sederhana seperti prapengolahan citra untuk mengurangi derau, pengaturan kontras, dan pengaturan ketajaman. Pengolahan kategori menengah melibatkan proses operasi-operasi seperti segmentasi dan klarifikasi citra. Pengolahan citra kategori tinggi melibatkan proses pengenalan dan deskripsi citra [4]. 

(1) Citra Digital

Secara umum, pengolahan citra digital menunjuk pada pemrosesan gambar 2 dimensi menggunakan computer. Dalam konteks yang lebih luas, pengolahan citra digital mengacu pada pemrosesan setiap data 2 dimensi. Citra digital merupakan larik (array) yang berisi nilai-nilai real maupun komplek yang direpresentasikan dengan deretan bit tertentu [4]


2) Citra Binary 

Citra biner adalah citra digital yang hanya memiliki dua kemungknan nilai pixel (nilai 0 dan 1) atau biasa disebut citra monokrom [4]. Nilai 0 menyatakan warna hitam dan 1 menyatakan warna putih. Citra jenis ini banyak digunakan dalam pemrosesan citra, biasanya untuk mendapatkan tepi bentuk suatu objek [5]. Pada gambar 2 akan dibandingkan citra asli dan citra yang sudah dikonversi menjadi citra biner.


3) Kontour 

Merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan tepi objek. Terdapat istilah kontur eksternal dan kontur internal, kontur eksternal terletak diluar objek, sedangkan kontur internal terletak di dalam objek [4]. Pada gambar 4 akan diperlihatkan ilustrasi perbedaan kedua jenis kontur


4) Ruang Warna 

Ruang warna (atau kadang disebut sistem warna atau model warna) sebagai suatu spesifikasi sistem koordinat dan suatun subruang dalam sistem tersebut dengan setiap warna dinyatakan dengan satu titik di dalamnya [6]. Tujuan dibentuknya ruang warna adalah untuk memfasilitasi spesifikasi warna dalam bentuk suatu standar [4]. 

5) Ruang Warna RGB 

Ruang warna RGB adalah ruang warna yang terdiri atas tiga komponen warna (red, green, blue). RGB banyak digunakan dalam perancangan hardware seperti peralatan elektronik (televisi, monitor computer, dan lain-lain) karena kemudahannya dalam perancangan, akan tetapi sebenarnya tidak ideal untuk beberapa apikasi karena warna merah, hijau, dan biru terkorelasi erat dan sangat sulit diproses uuntuk beberap algoritma [4]. Dengan resolusi 24 jumlah warna pada model RGB mencapai 16.777.216. Pada gambar 2.5 akan diperlihatkan model RGB yang disajikan dalam bentuk kubus tiga dimensi


6) Ruang Warna HSV 

Berasal dari kata hue, saturation, dan value merupakan ruang warna yang merepresentasikan seperti yang dilihat oleh mata manusia atau lebih mudahnya warna-warna yang sama seperti yang ditangkap oleh mata manusia [4].



Pengujian 

Pengujian meliputi keberhasilan pendeteksi objek pada Robomagellan Jelajah V-18. Uji coba dilakukan dilapang terbuka, pengujian dilakukan dengan cara menghitung jarak antara robot dan objek dan menghitung keberhasilan robot mendeteksi objek pada table 2.


Jika dilihat dari table 2 tingkat keberhasilan sistem dari mulai jarak satu meter sampai enam meter mencapai 100% dan pada jarak tujuh meter presentase keberhasilan robot hanya 35.67%. Pada jarak tujuh meter robot sudah sulit untuk menentukan apakah objek tersebut adalah traffic cone atau bukan.

HASIL PEGUJIAN 

Berdasarkan pengujian dan analisan sistem pendeteksi dan pencarian objek, diperoleh kesimpulan bahwa :

• Robot dapat mengenali traffic cone berwarna jingga dan berbentuk segitiga. 
• Sistem pengendali dapat mengenali objek sampai dengan jarak enam meter dengan presentase       keberhasilan mencapai seratus persen.
• Pada jarak enam meter lebih presentase keberhasilan sistem dalam mengenali objek menurun drastis sampai dengan tiga puluh lima persen.

(2) SEGMENTASI CITRA DIGITAL OBJEK HASIL PENGAMATAN IN SITU  LOCAZILATION GEN GFP PADA TANAMAN TRANFORMASI

Pendahuluan 

    Seiring dengan berkembangnya penelitian berbasis biomolekuler, tuntutan penggunaan perangkat lunak pengolah data semakin meningkat. Salah satunya yaitu kebutuhan perangkat lunak yang mampu mengolah data citra digital pada proses segmentasi warna. Dalam penelitian biomolekuler, segmentasi warna dapat digunakan untuk menganalisis pendaran warna hijau sebagai hasil ekspresi gen gfp. Gen gfp merupakan salah satu gen pelapor yang umum digunakan sebagai indikator keberhasilan penyisipan DNA asing. Gen ini mengkode protein Green Fluorescent Protein (GFP)(Remington, [8]) yang dapat dilihat keberadaannya sebagai pendaran warna hijau setelah ditembakkan sinar UV pada panjang gelombang eksitasi 450-490 nm. Gen pelapor ini banyak digunakan dalam proses rekayasa genetik tumbuhan maupun hewan. Kemampuan protein GFP dalam membentuk chromophore secara autokatalitik serta resisten terhadap photobleaching menyebabkan gen gfp dapat digunakan secara efektif untuk berbagai penelitian, seperti: memonitor ekspresi gen, in situ localization (Chalfie, Euskirchen, & Ward, [1]), biosensor, physiological indicators (Tsien, [10]), dan studi interaksi protein (Kumar & Pal, [4]). 

    Dalam mekanisme pembentukan pendaran hijau dari GFP, sinar UV panjang gelombang eksitasi 450-490 nm dapat diserap dan diemisikan oleh molekul protein GFP pada panjang gelombang 460-510 nm sebagai warna hijau (Remington, 2011). Adanya pendaran hijau tersebut diharapkan hanya muncul sebagai penanda terekspresinya gen gfp. Namun demikian, pada sampel tumbuhan terkandung senyawa yang juga diketahui dapat menyerap dan mengemisikan sinar UV sebagai warna hijau tua pada panjang gelombang 470 – 525 nm. Senyawa tersebut adalah beberapa senyawa metabolit sekunder yang tergolong ke dalam kelompok terpen, alkaloid (colchicine) dan flavonoid (Roshchina, 2008). Adanya warna hijau selain hasil ekspresi gen gfp ini tentunya dapat menyebabkan hasil analisis in situ localization menjadi bias. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan citra digital yang mampu memilah warna hijau hasil ekspresi gen gfp dan warna hijau dari emisi senyawa metabolit tumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memisahkan objek hasil ekspresi gen gfp pada citra digital jagung transforman dengan warna hijau yang diemisikan oleh senyawa metabolit sekunder jagung menggunakan beberapa metode pengolahan citra digital yang dibahas secara rinci pada bagian metode penelitian

Definisi Citra 

    Citra dapat didefinisikan sebagai fungsi dua dimensi 𝑓(𝑥, 𝑦) di mana 𝑥 dan 𝑦 adalah koordinat bidang dan amplitude dari 𝑓 untuk setiap pasang koordinat (𝑥, 𝑦) disebut dengan intensity atau gray level pada titik tersebut. Ketika 𝑥, 𝑦, dan nilai amplitudo 𝑓 semuanya terbatas, diskrit, kita menyebut citra tersebut sebagai citra digital (Gonzalez & Woods, [2]). Untuk selanjutnya pemakaian kata citra pada paper ini merujuk kepada citra digital. 

Citra Berwarna 

    Citra berwarna merupakan citra yang memiliki 3 buah kanal warna. Umumnya jenis citra berwarna terbentuk dari komponen merah/ red (R), hijau/ green (G), biru/ blue (B) yang dimodelkan ke dalam ruang warna RGB sehingga citra ini biasa dikenal sebagai citra RGB. Selain ruang warna RGB, terdapat pula ruang warna lainnya seperti CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black), HSV (Hue, Saturation, Value), YCbCr(), dan Lab (L*a*b). (Hidayatulloh, [3]) 


Citra Grayscale 

    Citra grayscale disebut juga sebagai 8-bit image karena untuk tiap nilai pikselnya memerlukan penyimpanan sebesar 8-bit. Jenis citra ini hanya memiliki satu buah kanal sehingga yang ditampilkan adalah nilai intensitas. Nilai intensitas biasa dikenal sebagai derajat keabuan. Citra grayscale memiliki tempat penyimpanan yang lebih hemat karena memiliki satu kanal saja. 


Citra Biner 

    Citra biner (binary image) atau dikenal dengan citra hitam putih (black and white image) merupakan citra yang hanya memiliki dua kemungkinan nilai untuk setiap pikselnya, yaitu 0 atau 1 sehingga citra jenis ini hanya membutuhkan 1-bit untuk menyimpan nilai pada setiap pikselnya. Nilai 0 akan tampil sebagai warna hitam, sedangkan nilai 1 akan tampil sebagai warna putih. Citra biner sering digunakan untuk proses masking ataupun proses segmentasi citra. 

    Suatu citra biner bisa didapatkan dari citra grayscale melalui proses thresholding berdasarkan nilai ambang batas (threshold) yang ditentukan. Apabila nilai piksel pada citra grayscale lebih besar atau sama dengan nilai threshold, maka nilai piksel tersebut dikonversi menjadi 1. Sedangkan jika nilai piksel kurang dari nilai threshold, maka nilai piksel tersebut dikonversi menjadi 0. Secara matematis proses ini dituliskan pada persamaan (3)

Operasi Dilasi 

    Operasi dilasi dilakukan untuk memperbesar ukuran segmen obyek dengan menambah lapisan di sekeliling obyek. Proses perubahan citra disesuaikan dengan structuring element pembanding. Jika titik acuan sesuai dengan ketentuan, maka lakukan operasi perubahan citra awal bersesuaian dengan structuring element (Munir,[7]).


Operasi Erosi 

    Operasi erosi adalah kebalikan dari operasi dilasi. Pada operasi ini, ukuran obyek diperkecil dengan mengikis sekeliling obyek. Operasi ini juga bekerja sesuai dengan structure element pembandingnya. Jika titik acuan sesuai dengan nilai intensitas obyek, maka lakukan operasi perubahan citra awal yang bersesuaian dengan structuring element (Munir,[7]).



Deteksi kontur 

    Proses ini bertujuan untuk menampilkan kontur area protein GFP. Input pada proses ini adalah Gambar 12. Gambar tersebut diolah menggunakan Canny edge detector sehingga menghasilkan citra yang dapat dilihat pada Gambar 13. 


    Pada Gambar 13 masih terdapat derau berupa kontur-kontur objek yang berukuran kecil. Derau tersebut akan dihilangkan dengan melakukan filter terhadap width and height objek kontur. Hasilnya diperoleh kontur yang memiliki width and height yang berukuran minimal 19x20 yang dapat dilihat pada Gambar 14.




Simpulan 

    Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah citra objek hasil ekspresi gen gfp yang telah tersegmentasi pada sayatan melintang akar jagung transforman melalui pengolahan citra digital.


(3) MENGUBAH CITRA BERWARNA MENJADI GRAY­SCALE DAN CITRA BINER

PENDAHULUAN 

    Dalam citra ini tidak ada lagi warna, yang ada adalah derajat  keabuan. Untuk  mengubah citra berwarna yang mempunyai nilai matrik masing­ masing  r, g  dan b menjadi  citra gray scale  dengan  nilai s, maka konversi dapat  dilakukan  dengan mengambil rata­rata dari nilai r, g dan b  sehingga dapat dituliskan menjadi: 


    Untuk mencoba proses konversi citra berwarna menjadi citra gray­scale ini dapat dibuat  program seperti gambar 1 


1. Thresholding 

    Thresholding digunakan untuk mengatur  jumlah  derajat  keabuan yang ada pada citra. Dengan menggunakan thresholding maka derajat  keabuan bisa diubah sesuai keinginan, misalkan  diinginkan menggunakan  derajat  keabuan  16, maka tinggal membagi nilai derajat  keabuan  dengan 16.



2. Fungsi mengubah rgb ke warna 

    long int RGBToWarna(int Red, int Green, int  Blue) {  return(Red+(Green<<8)+(Blue<<16));  }  Setiap  pixel  pada gambar akan diberikan  campuran dari 3  warna dasar yang sebelumnya telah dipecah sehingga setiap pixel akan terdiri  dari 3 warna dasar tergantung pada intensitasnya

3.  merubah gambar ke grayscale

    Pada pengubahan sebuah gambar menjadi  grayscale dapat  dilakukan dengan cara mengambil semua pixel pada gambar kemudian  warna tiap  pixel akan diambil informasi mengenai 3  warna dasar yaitu  merah, biru  dan  hijau  (melalui fungsi warnatoRGB), ketiga warna dasar ini akan dijumlahkan kemudian  dibagi tiga sehingga didapat nilai rata­rata. Nilai  rata­rata inilah yang  akan dipakai  untuk  memberikan warna pada pixelgambar sehingga warna menjadi grayscale, tiga warna dasar dari  sebuah  pixel akan diset  menjadi nilai  rata­rata (melalui fungsi RGBtowarna)

4. merubah gambar ke biner

    Mengubah gambar ke biner prosesnya hampir sama dengan mengubah gambar ke grayscale, bedanya warna rata­rata akan dikelompokkan  menjadi dua, jika intensitas warna dimulai dari 0  sampai dengan 255  maka diambil nilai  tengahnya yaitu  128, jika dibawah 128  maka warna akan cenderung hitam dan diatas 128  warna akan cenderung putih 


KESIMPULAN 

1. Citra berwarna terdiri dari 3  layer matrik  yaitu R­layer, G­layer dan B­layer 
2. Thresholding digunakan untuk mengatur  jumlah derajat keabuan yang ada pada citra. Dengan menggunakan thresholding maka derajat  keabuan bisa diubah sesuai  keinginan. 


DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia, "Wikipedia," 28 7 2018. [Online]. Available: https://en.wikipedia.org/wiki/Autonomous_c ar. [Accessed 2018 7 29]. 

Chalfie, M., Tu, Y., Euskirchen, G., Ward, W. W., dan Prasher, D. C. 1994. Green Fluorescent Protein as A Marker for Gene Expression. Science. 263(5148): 802–805

Munir, Rinaldi, 2004, Pengolahan Citra Digital  dengan  pendekatan  Algoritmik, Penerbit  Informatika, Bandung. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan 10 (Pengolah Citra)

PERTEMUAN 5, RESUME TOPOLOGI JARINGAN KOMPUTER BESERTA KELEBIHAN & KEKURANGAN